Jumat, 01 Januari 2010

IPNU-IPPNU Harus Teladani Kepemimpinan Gus Dur

Sabtu, 2 Januari 2010 02:36

Temanggung, NU Online
Rekan-rekanita Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) harus meneladani kepemimpinan almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Gus Dur merupakan tokoh NU yang juga menjadi guru bangsa, maka para kader IPNU-IPPNU harus meneladani beliau," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung Trie Marhaen Suhardono di Temanggung, Jateng, Jumat.

Ia mengatakan hal tersebut saat mewakili Bupati Temanggung, Hasyim Afandi membuka Kemah Bakti IPNU-IPPNU Cabang Temanggung di Desa Pendowo, Kecamatan Kranggan.

Lebih lanjut Marhaen mengatakan Gus Dur merupakan tokoh agama yang tidak saja diakui di tingkat nasional tetapi juga diakui di tingkat internasional.

"Mudah-mudahan dari para kader IPNU-IPPNU Temanggung lahir tokoh yang menjadi panutan bangsa, tokoh pluralis seperti Gus Dur," katanya.

Ia mengatakan, Pemkab Temanggung berharap organisasi ini bisa dijaga dan berkembang untuk membina pelajar di luar bangku sekolah.

IPNU-IPPNU, katanya, dapat menjadi wadah pembinaan kegiatan remaja sesuai dengan tuntunan agama dan tatanan negara.

"Jangan sampai anggota IPNU-IPPNU menodai organisasi ini. Kami berharap adik-adik bisa menjaga nama baik organisasi sebagai pembina generasi muda," katanya.

Ketua Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Temanggung, Priyanto mengatakan sebagai anggota IPNU-IPPNU harus bisa mencontoh Gus Dur.

"Banyak kalangan yang mendoakan atas kepergian Gus Dur karena kepemimpinan beliau tidak hanya diakui nasional tetapi juga internasional," katanya.

Kemah bakti yang berlangsung hingga Ahad 3/1) tersebut diikuti 400 anggota dari 18 ranting IPNU-IPPNU di Temanggung. (ant/sam)


courtessy : www.nu.or.id

Gus Dur Pesan agar PBNU Dijaga Baik-Baik

Rabu, 30 Desember 2009 21:20

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi telah mendapat amanah dari Gus Dur untuk menjaga PBNU dengan baik. Pesan ini disampaikan ketika ia menjenguk Gus Dur dua minggu yang lalu saat ia menderita sakit.

"Jaga PBNU baik-baik," ujar Hasyim Muzadi saat melayat jenazah Gus Dur di RSCM Jakarta.

Dikatakannya, banyak hal yang bisa diteladani dari pribadi Gus Dur, diantaranya konsistensi dalam pemikiran. Ia merupakan tokoh berkarakter dan berani mengambil risiko atas kepemimpinannya, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya.

"Belum ada kader sekokoh Gus Dur dari perjuangannya. Hanya karena masalah lingkungan, ini semua tidak menjadi kapasitas penuh. Karena kesehatan dan lingkungan, tapi orisinal Gus Dur luar biasa."

Gus Dur juga bukan orang yang suka mengeluh dengan persoalan yang dihadapi. Ia berani menanggung semua risiko atas tindakan yang diambilnya. (mkf)


courtessy : www.nu.or.id

Gus Dur Titipkan Pesan Terakhir Soal Fundamentalisme

Kamis, 31 Desember 2009 01:11

Jakarta, NU Online
Menjelang akhir-akhir hidupnya, kepedulian mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid semasa hidupnya terhadap persoalan toleransi dan kerukunan umat beragama, tetaplah besar sehingga menitipkan pesan pada tokoh Katolik untuk memperlakukan kaum fundamentalis secara lebih bijak.

Hal itu disampaikan Romo Benny Susetyo, di Jakarta, Rabu malam, merujuk pada pertemuan antara Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog antar Agama Vatikan Kardinal Jean Louis Tauran dengan KH. Abdurrahman Wahid pada November 2009.

"Saat itu Gus Dur berpesan agar kaum fundamentalis jangan dijauhi tetapi harus dicintai," katanya mengutip salah satu pesan Gus Dur.


Menurut Romo Benny, Gus Dur adalah tokoh besar bagi bangsa Indonesia. Ia sangat memperhatikan isu-isu pluralisme dan mementingkan arti dari kejujuran. Selama hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat mendedikasikan jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia.

"Menurut saya, hidup Gus Dur semata-mata untuk bangsa dan negara. Beliau meninggalkan kepentingan pribadinya untuk bangsa, orang yang mencintai bangsa dan menyediakan waktu untuk bangsa," kata Romo Benny yang merupakan teman dekat dari almarhum Gus Dur.

Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan tidak pernah lepas dari guyonan-guyonan yang menyegarkan. Guyonan itulah menjadi ciri khas Gus Dur yang selalu diingat.

Lebih lanjut Romo Benny mengatakan, meski didera sakit, Gus Dur masih sempat mengucapkan Selamat Natal padanya melalui telepon pada 25 Desember 2009.

"Pada 25 Desember, beliau menghubungi saya untuk mengucapkan Selamat Natal. Saat itu Gus Dur sempat mengeluh karena sakit gigi, tapi tetap saja Gus Dur bilang masih sehat," katanya.

Dalam perbincangan tersebut, Romo Benny mengaku menerima pesan dari Gus Dur yaitu untuk menjaga Shinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur.

"Beliau bilang titip ibu (Shinta Nuriyah Wahid)," katanya.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia pada usia 69 tahun karena sakit di RSCM Jakarta, Rabu pukul 18.40 WIB.

Abdurrahman Wahid menjabat Presiden RI keempat mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940.

Ayah Gus Dur adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, KH Wahid Hasyim dan Ibunya bernama Hj Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri.

Gus Dur menikah dengan Shinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. (ant/mad)



courtessy : www.nu.or.id

Gus Dur Bapak Pluralisme Internasional

Kardinal: Gus Dur Berkah bagi Umat Katolik
Kamis, 31 Desember 2009 05:22

Jakarta, NU Online
Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menilai mantan presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai berkat bagi umat Katolik.

"Bagi kami umat Katolik, pengaruhnya sangat besar, baik secara pribadi maupun umat Katolik Indonesia. Gus Dur juga menjadi perekat bagi umat lain yang berbeda. Meski dia seorang Muslim, dia mampu menjadi berkat bagi umat lainnya, baik Katolik maupun umat lainnya," katanya, Rabu (30/12/2009) malam.

Secara pribadi, Uskup mengaku merasa sedih dan kehilangan seorang tokoh yang mampu berteman baik tanpa menunjukkan perbedaan agama. "Secara pribadi dan pimpinan gereja Katolik di Jakarta, kami merasa sedih dan merasa kehilangan, juga bagi umat Katolik Indonesia," ujarnya.

Uskup menceritakan, persahabatannya dengan Gus Dur telah dimulai sebelum dia menjadi Uskup Agung Jakarta. "Saat ulang tahunnya saja, dia mengundang kami untuk memperlihatkan persaudaraan di antara sesama umat beragama," ujarnya.

Uskup mengaku kagum pada sikap Gus Dur yang konsisten dalam memperjuangkan dasar-dasar dan pengembangan perdamaian di antara umat beragama. (ant/mad

Kepergian Gus Dur Kehilangan bagi Semua

Kamis, 31 Desember 2009 07:50

Bogor, NU Online
Ulama Bogor, KH Mad Rodja Sukarta, Rabu malam, mengatakan, kepergian mantan Presiden Abdurrahman "Gus Dur" Wahid merupakan kehilangan bagi semua.

"Gus Dur merupakan Bapak Bangsa. Kepergian Gus Dur merupakan duka bagi semua," kata ulama yang juga pengasuh Pesantren Darul Muttaqien Parung, Bogor.

Menurut KH Mad Rodja, Gus Dur merupakan tokoh lintas batas. Selain sebagai panutan bagi warga Nahdlatul Ulama (NU) serta umat Islam pada umumnya, Gus Dur juga meruapakan panutan bagi semua umat beragama di Tanah Air.

"Selama hidup Gus Dur mewakafkan dirinya bagi kerukunan umat beragama dengan mengajarkan toleransi serta menghilangkan diskriminasi berdasarkan agama maupun ras," kata ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bogor.

Rodja melanjutkan, apa yang telah dilakukan Gus Dur, merupakan buah kecintaannya kepada Indonesia. Karakter menempatkan kepentingan bangsa di atas segala-galanya layak dinnternalisasi oleh segenap anak bangsa.

Pengasuh Pesantren Ibnu Aqil, Ciomas, Bogor, KH Agus Salim Mawardi menambahkan, spirit perjuangan yang ditunjukkan Gus Dur, harus ditiru oleh bangsa Indonesia.

"Gus Dur tidak pernah lelah berjuang yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Keterbatasan fisik dan hambatan kesehatan, tidak pernah menjadi halangan dalam memperjuangkan cita-cita besarnya," tegas Agus Salim.

Agus Salim juga menilai Gus Dur sebagai sosok pejuang yang ikhlas dan sederhana, yang selalu berupaya melakukan perlindungan terhadap hak-hak kemanusiaan.

"Spririt, teladan dan cita-cita perjuangan Gus Dur harus kita lanjutkan demi mewujudkan kehidupan bangsa yang berkeadilan bagi semua," demikian KH Agus Salim Mawardi. (hir)


courtessy : www.nu.or.id

Wafatnya Gus Dur Diharap Jadi Momen Perekat NU

Kamis, 31 Desember 2009 08:04

Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama (LDNU), KH Musthofa Agil berharap wafatnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bisa menjadi momen rekatnya kembali berbagai elemen NU di masa mendatang.

Menurutnya, pada masa-masa berkabung seperti sekarang bisa dimanfaatkan untuk saling bersilaturahim antar tokoh dan warga NU. "Harapannya, dengan rasa ditinggalkan figur sebesar Gus Dur mampu membangun kembali kesadaran untuk bersatu," ucapnya kepada wartawan di kantor Pengurus Besar NU, Rabu (30/12) malam.

Musthofa mengenang, di hari-hari terakhirnya Gus Dur masih menyempatkan diri mampir ke tempat tersebut untuk bertemu pengurus NU yang ada di sana. Menurutnya, Gus Dur teramat peduli dengan nasib orang lain, bahkan di sela-sela sakitnya dia masih menyempatkan diri menonton berita agar mengikuti perkembangan bangsa.

"Beliau itu melindungi semuanya, tanpa pandang latar belakang. Benar-benar ingin menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam)," ujarnya.

Menurut Musthofa, di kalangan pengurus NU sempat merasakan firasat sebelum Gus Dur meninggal. Dikatakannya, lawatan Gus Dur ke Jombang terbilang aneh karena sebelumnya dia tidak pernah melakukan kunjungan ke sana.

Ditambahkannya, selain itu Gus Dur juga sempat dirawat di Surabaya sebelum dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. "Namanya semacam 'alamat', pertanda kelak kemungkinan Gus Dur akan dimakamkan di sana (Jawa Timur, rep)," tuturnya. (c15/mad)


courtessy : www.nu.or.id

Selasa, 13 Oktober 2009

IPNU-IPPNU ‘Bregas’ Gelar Latihan Kepemimpinan

Selasa, 29 September 2009 13:10

Brebes, NU Online
Sadar bahwasanya tiap-tiap individu adalah seorang pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya, maka IPNU-IPPNU senantiasa menggelar pelatihan kepemimpinan. Termasuk keberhasilan dalam berorganisasi, juga bergantung pada pemimpinnya.

Untuk itu, guna menumbuhkan jiwa kepemimpinan anggota Ikatan Pelajar NU di tiga kota yang meliputi Brebes, Tegal dan Slawi (Bregas) akan digodok
melalui Latihan Kepemimpinan. Tidak tanggung-tanggung, ketiga Kepala Daerah di tiga kota tersebut pun akan membimbing langsung para peserta.

“Event ini sengaja digelar untuk anggota IPNU-IPPNU tiga daerah, agar ada semangat kerja sama dan saling kenal mengenal,” ujar Ketua Panitia
Penyelenggara kegiatan Isa Ansori yang didampingi Ketua IPNU Kab. Brebes Ahmad Munsip dan Ketua IPNU Kota Tegal Andi Suprapto kepada NU Online di
Sekretariat IPNU-IPPNU Brebes, Jalan Kembang Baru Brebes Senin (28/9).

Menurut Isa, Ketiga Kepala Daerah tersebut yakni Bupati Tegal H. Agus Riyanto MM akan menyampaikan Materi tentang Budaya Kebangsaan dan Wali Kota
Tegal H. Ikmal Jaya SE Ak akan menyuguhkan materi Perekonomian Rakyat. Sedangkan Wakil Bupati Brebes H. Agung Widyantoro SH MSi akan mengupas
tentang Hukum.

Isa Ansori menjelaskan, Latihan Kepemimpinan bakal digelar tanggal 9 sampai 11 Oktober di Gedung Pertemuan Al Kharomain Jalan Werkudoro Kota Tegal.
Selain ketiga Kepala Daerah tersebut pemateri juga akan didatangkan dari PP IPNU IPPNU dan PW IPNU-IPPNU. “Insya Allah Rekan Ahmad Syauqi dan Margareth dari PP dan Moh. Talkis dan Ummi Nuamah dari PW akan hadir mengisi materi,” ujarnya.

Pelatihan yang mengambil tema membangun kultur kepemimpinan yang berkepribadian itu akan diikuti lebih kurang 100 peserta dari Kab. Brebes,
Kab. Tegal dan Kota Tegal. “Mereka akan menginap ditempat kegiatan dengan berbagai aktivitas ala santri,” tandasnya. (was)


courtessy : www.nu.or,id