Kamis, 31 Desember 2009 01:11
Jakarta, NU Online
Menjelang akhir-akhir hidupnya, kepedulian mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid semasa hidupnya terhadap persoalan toleransi dan kerukunan umat beragama, tetaplah besar sehingga menitipkan pesan pada tokoh Katolik untuk memperlakukan kaum fundamentalis secara lebih bijak.
Hal itu disampaikan Romo Benny Susetyo, di Jakarta, Rabu malam, merujuk pada pertemuan antara Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog antar Agama Vatikan Kardinal Jean Louis Tauran dengan KH. Abdurrahman Wahid pada November 2009.
"Saat itu Gus Dur berpesan agar kaum fundamentalis jangan dijauhi tetapi harus dicintai," katanya mengutip salah satu pesan Gus Dur.
Menurut Romo Benny, Gus Dur adalah tokoh besar bagi bangsa Indonesia. Ia sangat memperhatikan isu-isu pluralisme dan mementingkan arti dari kejujuran. Selama hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat mendedikasikan jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia.
"Menurut saya, hidup Gus Dur semata-mata untuk bangsa dan negara. Beliau meninggalkan kepentingan pribadinya untuk bangsa, orang yang mencintai bangsa dan menyediakan waktu untuk bangsa," kata Romo Benny yang merupakan teman dekat dari almarhum Gus Dur.
Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan tidak pernah lepas dari guyonan-guyonan yang menyegarkan. Guyonan itulah menjadi ciri khas Gus Dur yang selalu diingat.
Lebih lanjut Romo Benny mengatakan, meski didera sakit, Gus Dur masih sempat mengucapkan Selamat Natal padanya melalui telepon pada 25 Desember 2009.
"Pada 25 Desember, beliau menghubungi saya untuk mengucapkan Selamat Natal. Saat itu Gus Dur sempat mengeluh karena sakit gigi, tapi tetap saja Gus Dur bilang masih sehat," katanya.
Dalam perbincangan tersebut, Romo Benny mengaku menerima pesan dari Gus Dur yaitu untuk menjaga Shinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur.
"Beliau bilang titip ibu (Shinta Nuriyah Wahid)," katanya.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia pada usia 69 tahun karena sakit di RSCM Jakarta, Rabu pukul 18.40 WIB.
Abdurrahman Wahid menjabat Presiden RI keempat mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940.
Ayah Gus Dur adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, KH Wahid Hasyim dan Ibunya bernama Hj Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri.
Gus Dur menikah dengan Shinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. (ant/mad)
courtessy : www.nu.or.id
Jumat, 01 Januari 2010
Gus Dur Bapak Pluralisme Internasional
Kardinal: Gus Dur Berkah bagi Umat Katolik
Kamis, 31 Desember 2009 05:22
Jakarta, NU Online
Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menilai mantan presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai berkat bagi umat Katolik.
"Bagi kami umat Katolik, pengaruhnya sangat besar, baik secara pribadi maupun umat Katolik Indonesia. Gus Dur juga menjadi perekat bagi umat lain yang berbeda. Meski dia seorang Muslim, dia mampu menjadi berkat bagi umat lainnya, baik Katolik maupun umat lainnya," katanya, Rabu (30/12/2009) malam.
Secara pribadi, Uskup mengaku merasa sedih dan kehilangan seorang tokoh yang mampu berteman baik tanpa menunjukkan perbedaan agama. "Secara pribadi dan pimpinan gereja Katolik di Jakarta, kami merasa sedih dan merasa kehilangan, juga bagi umat Katolik Indonesia," ujarnya.
Uskup menceritakan, persahabatannya dengan Gus Dur telah dimulai sebelum dia menjadi Uskup Agung Jakarta. "Saat ulang tahunnya saja, dia mengundang kami untuk memperlihatkan persaudaraan di antara sesama umat beragama," ujarnya.
Uskup mengaku kagum pada sikap Gus Dur yang konsisten dalam memperjuangkan dasar-dasar dan pengembangan perdamaian di antara umat beragama. (ant/mad
Kamis, 31 Desember 2009 05:22
Jakarta, NU Online
Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menilai mantan presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai berkat bagi umat Katolik.
"Bagi kami umat Katolik, pengaruhnya sangat besar, baik secara pribadi maupun umat Katolik Indonesia. Gus Dur juga menjadi perekat bagi umat lain yang berbeda. Meski dia seorang Muslim, dia mampu menjadi berkat bagi umat lainnya, baik Katolik maupun umat lainnya," katanya, Rabu (30/12/2009) malam.
Secara pribadi, Uskup mengaku merasa sedih dan kehilangan seorang tokoh yang mampu berteman baik tanpa menunjukkan perbedaan agama. "Secara pribadi dan pimpinan gereja Katolik di Jakarta, kami merasa sedih dan merasa kehilangan, juga bagi umat Katolik Indonesia," ujarnya.
Uskup menceritakan, persahabatannya dengan Gus Dur telah dimulai sebelum dia menjadi Uskup Agung Jakarta. "Saat ulang tahunnya saja, dia mengundang kami untuk memperlihatkan persaudaraan di antara sesama umat beragama," ujarnya.
Uskup mengaku kagum pada sikap Gus Dur yang konsisten dalam memperjuangkan dasar-dasar dan pengembangan perdamaian di antara umat beragama. (ant/mad
Kepergian Gus Dur Kehilangan bagi Semua
Kamis, 31 Desember 2009 07:50
Bogor, NU Online
Ulama Bogor, KH Mad Rodja Sukarta, Rabu malam, mengatakan, kepergian mantan Presiden Abdurrahman "Gus Dur" Wahid merupakan kehilangan bagi semua.
"Gus Dur merupakan Bapak Bangsa. Kepergian Gus Dur merupakan duka bagi semua," kata ulama yang juga pengasuh Pesantren Darul Muttaqien Parung, Bogor.
Menurut KH Mad Rodja, Gus Dur merupakan tokoh lintas batas. Selain sebagai panutan bagi warga Nahdlatul Ulama (NU) serta umat Islam pada umumnya, Gus Dur juga meruapakan panutan bagi semua umat beragama di Tanah Air.
"Selama hidup Gus Dur mewakafkan dirinya bagi kerukunan umat beragama dengan mengajarkan toleransi serta menghilangkan diskriminasi berdasarkan agama maupun ras," kata ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bogor.
Rodja melanjutkan, apa yang telah dilakukan Gus Dur, merupakan buah kecintaannya kepada Indonesia. Karakter menempatkan kepentingan bangsa di atas segala-galanya layak dinnternalisasi oleh segenap anak bangsa.
Pengasuh Pesantren Ibnu Aqil, Ciomas, Bogor, KH Agus Salim Mawardi menambahkan, spirit perjuangan yang ditunjukkan Gus Dur, harus ditiru oleh bangsa Indonesia.
"Gus Dur tidak pernah lelah berjuang yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Keterbatasan fisik dan hambatan kesehatan, tidak pernah menjadi halangan dalam memperjuangkan cita-cita besarnya," tegas Agus Salim.
Agus Salim juga menilai Gus Dur sebagai sosok pejuang yang ikhlas dan sederhana, yang selalu berupaya melakukan perlindungan terhadap hak-hak kemanusiaan.
"Spririt, teladan dan cita-cita perjuangan Gus Dur harus kita lanjutkan demi mewujudkan kehidupan bangsa yang berkeadilan bagi semua," demikian KH Agus Salim Mawardi. (hir)
courtessy : www.nu.or.id
Bogor, NU Online
Ulama Bogor, KH Mad Rodja Sukarta, Rabu malam, mengatakan, kepergian mantan Presiden Abdurrahman "Gus Dur" Wahid merupakan kehilangan bagi semua.
"Gus Dur merupakan Bapak Bangsa. Kepergian Gus Dur merupakan duka bagi semua," kata ulama yang juga pengasuh Pesantren Darul Muttaqien Parung, Bogor.
Menurut KH Mad Rodja, Gus Dur merupakan tokoh lintas batas. Selain sebagai panutan bagi warga Nahdlatul Ulama (NU) serta umat Islam pada umumnya, Gus Dur juga meruapakan panutan bagi semua umat beragama di Tanah Air.
"Selama hidup Gus Dur mewakafkan dirinya bagi kerukunan umat beragama dengan mengajarkan toleransi serta menghilangkan diskriminasi berdasarkan agama maupun ras," kata ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bogor.
Rodja melanjutkan, apa yang telah dilakukan Gus Dur, merupakan buah kecintaannya kepada Indonesia. Karakter menempatkan kepentingan bangsa di atas segala-galanya layak dinnternalisasi oleh segenap anak bangsa.
Pengasuh Pesantren Ibnu Aqil, Ciomas, Bogor, KH Agus Salim Mawardi menambahkan, spirit perjuangan yang ditunjukkan Gus Dur, harus ditiru oleh bangsa Indonesia.
"Gus Dur tidak pernah lelah berjuang yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Keterbatasan fisik dan hambatan kesehatan, tidak pernah menjadi halangan dalam memperjuangkan cita-cita besarnya," tegas Agus Salim.
Agus Salim juga menilai Gus Dur sebagai sosok pejuang yang ikhlas dan sederhana, yang selalu berupaya melakukan perlindungan terhadap hak-hak kemanusiaan.
"Spririt, teladan dan cita-cita perjuangan Gus Dur harus kita lanjutkan demi mewujudkan kehidupan bangsa yang berkeadilan bagi semua," demikian KH Agus Salim Mawardi. (hir)
courtessy : www.nu.or.id
Wafatnya Gus Dur Diharap Jadi Momen Perekat NU
Kamis, 31 Desember 2009 08:04
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama (LDNU), KH Musthofa Agil berharap wafatnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bisa menjadi momen rekatnya kembali berbagai elemen NU di masa mendatang.
Menurutnya, pada masa-masa berkabung seperti sekarang bisa dimanfaatkan untuk saling bersilaturahim antar tokoh dan warga NU. "Harapannya, dengan rasa ditinggalkan figur sebesar Gus Dur mampu membangun kembali kesadaran untuk bersatu," ucapnya kepada wartawan di kantor Pengurus Besar NU, Rabu (30/12) malam.
Musthofa mengenang, di hari-hari terakhirnya Gus Dur masih menyempatkan diri mampir ke tempat tersebut untuk bertemu pengurus NU yang ada di sana. Menurutnya, Gus Dur teramat peduli dengan nasib orang lain, bahkan di sela-sela sakitnya dia masih menyempatkan diri menonton berita agar mengikuti perkembangan bangsa.
"Beliau itu melindungi semuanya, tanpa pandang latar belakang. Benar-benar ingin menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam)," ujarnya.
Menurut Musthofa, di kalangan pengurus NU sempat merasakan firasat sebelum Gus Dur meninggal. Dikatakannya, lawatan Gus Dur ke Jombang terbilang aneh karena sebelumnya dia tidak pernah melakukan kunjungan ke sana.
Ditambahkannya, selain itu Gus Dur juga sempat dirawat di Surabaya sebelum dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. "Namanya semacam 'alamat', pertanda kelak kemungkinan Gus Dur akan dimakamkan di sana (Jawa Timur, rep)," tuturnya. (c15/mad)
courtessy : www.nu.or.id
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama (LDNU), KH Musthofa Agil berharap wafatnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bisa menjadi momen rekatnya kembali berbagai elemen NU di masa mendatang.
Menurutnya, pada masa-masa berkabung seperti sekarang bisa dimanfaatkan untuk saling bersilaturahim antar tokoh dan warga NU. "Harapannya, dengan rasa ditinggalkan figur sebesar Gus Dur mampu membangun kembali kesadaran untuk bersatu," ucapnya kepada wartawan di kantor Pengurus Besar NU, Rabu (30/12) malam.
Musthofa mengenang, di hari-hari terakhirnya Gus Dur masih menyempatkan diri mampir ke tempat tersebut untuk bertemu pengurus NU yang ada di sana. Menurutnya, Gus Dur teramat peduli dengan nasib orang lain, bahkan di sela-sela sakitnya dia masih menyempatkan diri menonton berita agar mengikuti perkembangan bangsa.
"Beliau itu melindungi semuanya, tanpa pandang latar belakang. Benar-benar ingin menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam)," ujarnya.
Menurut Musthofa, di kalangan pengurus NU sempat merasakan firasat sebelum Gus Dur meninggal. Dikatakannya, lawatan Gus Dur ke Jombang terbilang aneh karena sebelumnya dia tidak pernah melakukan kunjungan ke sana.
Ditambahkannya, selain itu Gus Dur juga sempat dirawat di Surabaya sebelum dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. "Namanya semacam 'alamat', pertanda kelak kemungkinan Gus Dur akan dimakamkan di sana (Jawa Timur, rep)," tuturnya. (c15/mad)
courtessy : www.nu.or.id
Selasa, 13 Oktober 2009
IPNU-IPPNU ‘Bregas’ Gelar Latihan Kepemimpinan
Selasa, 29 September 2009 13:10
Brebes, NU Online
Sadar bahwasanya tiap-tiap individu adalah seorang pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya, maka IPNU-IPPNU senantiasa menggelar pelatihan kepemimpinan. Termasuk keberhasilan dalam berorganisasi, juga bergantung pada pemimpinnya.
Untuk itu, guna menumbuhkan jiwa kepemimpinan anggota Ikatan Pelajar NU di tiga kota yang meliputi Brebes, Tegal dan Slawi (Bregas) akan digodok
melalui Latihan Kepemimpinan. Tidak tanggung-tanggung, ketiga Kepala Daerah di tiga kota tersebut pun akan membimbing langsung para peserta.
“Event ini sengaja digelar untuk anggota IPNU-IPPNU tiga daerah, agar ada semangat kerja sama dan saling kenal mengenal,” ujar Ketua Panitia
Penyelenggara kegiatan Isa Ansori yang didampingi Ketua IPNU Kab. Brebes Ahmad Munsip dan Ketua IPNU Kota Tegal Andi Suprapto kepada NU Online di
Sekretariat IPNU-IPPNU Brebes, Jalan Kembang Baru Brebes Senin (28/9).
Menurut Isa, Ketiga Kepala Daerah tersebut yakni Bupati Tegal H. Agus Riyanto MM akan menyampaikan Materi tentang Budaya Kebangsaan dan Wali Kota
Tegal H. Ikmal Jaya SE Ak akan menyuguhkan materi Perekonomian Rakyat. Sedangkan Wakil Bupati Brebes H. Agung Widyantoro SH MSi akan mengupas
tentang Hukum.
Isa Ansori menjelaskan, Latihan Kepemimpinan bakal digelar tanggal 9 sampai 11 Oktober di Gedung Pertemuan Al Kharomain Jalan Werkudoro Kota Tegal.
Selain ketiga Kepala Daerah tersebut pemateri juga akan didatangkan dari PP IPNU IPPNU dan PW IPNU-IPPNU. “Insya Allah Rekan Ahmad Syauqi dan Margareth dari PP dan Moh. Talkis dan Ummi Nuamah dari PW akan hadir mengisi materi,” ujarnya.
Pelatihan yang mengambil tema membangun kultur kepemimpinan yang berkepribadian itu akan diikuti lebih kurang 100 peserta dari Kab. Brebes,
Kab. Tegal dan Kota Tegal. “Mereka akan menginap ditempat kegiatan dengan berbagai aktivitas ala santri,” tandasnya. (was)
courtessy : www.nu.or,id
Brebes, NU Online
Sadar bahwasanya tiap-tiap individu adalah seorang pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya, maka IPNU-IPPNU senantiasa menggelar pelatihan kepemimpinan. Termasuk keberhasilan dalam berorganisasi, juga bergantung pada pemimpinnya.
Untuk itu, guna menumbuhkan jiwa kepemimpinan anggota Ikatan Pelajar NU di tiga kota yang meliputi Brebes, Tegal dan Slawi (Bregas) akan digodok
melalui Latihan Kepemimpinan. Tidak tanggung-tanggung, ketiga Kepala Daerah di tiga kota tersebut pun akan membimbing langsung para peserta.
“Event ini sengaja digelar untuk anggota IPNU-IPPNU tiga daerah, agar ada semangat kerja sama dan saling kenal mengenal,” ujar Ketua Panitia
Penyelenggara kegiatan Isa Ansori yang didampingi Ketua IPNU Kab. Brebes Ahmad Munsip dan Ketua IPNU Kota Tegal Andi Suprapto kepada NU Online di
Sekretariat IPNU-IPPNU Brebes, Jalan Kembang Baru Brebes Senin (28/9).
Menurut Isa, Ketiga Kepala Daerah tersebut yakni Bupati Tegal H. Agus Riyanto MM akan menyampaikan Materi tentang Budaya Kebangsaan dan Wali Kota
Tegal H. Ikmal Jaya SE Ak akan menyuguhkan materi Perekonomian Rakyat. Sedangkan Wakil Bupati Brebes H. Agung Widyantoro SH MSi akan mengupas
tentang Hukum.
Isa Ansori menjelaskan, Latihan Kepemimpinan bakal digelar tanggal 9 sampai 11 Oktober di Gedung Pertemuan Al Kharomain Jalan Werkudoro Kota Tegal.
Selain ketiga Kepala Daerah tersebut pemateri juga akan didatangkan dari PP IPNU IPPNU dan PW IPNU-IPPNU. “Insya Allah Rekan Ahmad Syauqi dan Margareth dari PP dan Moh. Talkis dan Ummi Nuamah dari PW akan hadir mengisi materi,” ujarnya.
Pelatihan yang mengambil tema membangun kultur kepemimpinan yang berkepribadian itu akan diikuti lebih kurang 100 peserta dari Kab. Brebes,
Kab. Tegal dan Kota Tegal. “Mereka akan menginap ditempat kegiatan dengan berbagai aktivitas ala santri,” tandasnya. (was)
courtessy : www.nu.or,id
Minggu, 13 September 2009
« Nuzulul Quran









Misteri Lailatul Qodar Dari Sisi Ilmiah
Manfaatkan malam Ramadhan untuk memperluas ilmu dan membangun keyakinan
Mengapa Ramadhan?
Dalam Islam kita mengenal adanya 4 bulan suci, yaitu Dzulka’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ramadhan yang berarti panas pun tidak termasuk sebagai bulan suci. Mengapa Ramadhan dipilih untuk puasa sebulan penuh?
Dalam ilmu astronomi, Radiasi Matahari memiliki siklus 11 tahunan.
Tahun 2007 sendiri merupakan akhir dari siklus ke 23 sejak pengamatan pertama pada abad 18.
Bumi dilindungi Magnestosphere, sehingga dampak badai radiasi bukan terjadi pada sisi bumi yang menghadap matahari (siang hari).
Saat badai radiasi matahari datang, dampaknya terasa pada bagian bumi yang membelakangi matahari (malam hari).
Radiasi di malam hari mempengaruhi tingkat getaran otak.
Radiasi dan gravitasi bulan purnama meningkatkan permukaan air laut dan kehidupan makhluk laut di malam hari. Juga menarik air dalam membran otak dan lebih menggetarkan sel-sel otak. Getaran sel otak menggambarkan tingkat kesadaran dan aktivitas otak.
Umat muslim dianjurkan puasa sunnah 3 hari “shaumul biidh” pada saat terang bulansetiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Hijriyah dan menghidupkan malam-malamnya.
Tingkat radiasi bervariasi 0-100,000 dan di skala S1-S5 oleh NOAA.
Berdasarkan pengamatan, radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 terjadi 10 kali dalam satu siklus 11 tahunan, atau terjadi setiap 13 bulan sekali. Radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 ini digolongkan dalam skala S3, dan mulai berbahaya bagi manusia sebesar 1 chest x-ray.
Radiasi dengan siklus 11,7 bulan (1 tahun hijriyah) adalah sebesar 800 MeV particles s-1 ster-1 cm-2
Mengarah pada hipotesa malam Lailatul Qadar
Mengarah pada hipotesa malam Lailatul Qadar
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan
(QS Al Qadr 97:3)
Building Block …
* Siklus satu tahunan (hijriyah) bernilai 1000 x bulan purnama
* Malam yang nilainya 1000 bulan purnama adalah Lailatul Qadr
* Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan
* Jadi siklus badai matahari yang berulang setiap satu tahunan (hijriyah) terjadi setiap bulan Ramadhan
Itulah sebabnya…
* Sejarah para nabi menunjukkan bahwa mereka senang merenungkan hakekat kehidupan, bertapa, pada setiap bulan Ramadhan.
* Secara umum wahyu-wahyu tentang ajaran agama yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi, banyak yang diturunkan di malam-malam bulan Ramadhan.
* Penataan ayat-ayat Al Quran ke dalam surat-surat seperti yang tersaji saat ini, dilakukan Nabi Muhammad pada malam-malam bulan Ramadhan.
* Umat muslim diajak untuk menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan
* Lebih utama adalah i’tiqaf di masjid pada 10 malam terakhir, pada malam-malam sebelum dan setelah Lailatul Qadr
“Three in One” di bulan Ramadhan
* Untuk bisa mengaji malam Ramadhan dibutuhkan energi ekstra
* Kenyataannya puasa siang hari bukanlah menyebabkan tubuh kekurangan / kehabisan energi
* Justru puasa menghemat energi tubuh 10% karena tidak digunakan untuk mencerna makanan
* Energi yang dihemat ini sangat membantu pemahaman pelajaran di malam hari
* Three in One di bulan Ramadhan
1. Efektif memahami Al Quran di malam hari
2. Detoksifikasi dan Manajemen Energi di siang hari
3. Kembali fitrah setelah berpuasa 28 hari berturut-turut
Manfaatkan malam-malam Ramadhan
* Untuk dapat dengan mudah memahami makna kehidupan secara komprehensif dan benar, manfaatkan keenceran otak di kesunyian malam Lailatul Qadr
* Untuk mendapat pemahaman lebih luas, malam-malam di sekitar Lailatul Qadr juga oke (10 malam terakhir Ramadhan)
* Lebih oke lagi kalau dimulai malam pertama Ramadhan, mumpung siangnya berpuasa
* Hasil renungan malam ini harus dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari
* Nikmat hidup akan diperoleh jika kita berkontribusi positif kepada kehidupan dunia dengan berserah diri kepadaNya
* Nikmat kehidupan akhirat akan diperoleh bila kita mampu selalu menikmati dan mensyukuri kehidupan dunia
Andai ada kekurangan,
semata karena kedangkalan ilmu.
Andai ada yang kurang berkenan,
semata karena awam berkomunikasi.
Mohon maaf atas segala kelemahan.
Semoga bermanfaat
source : auliamuttaqin.wordpress
Kamis, 10 September 2009
Para Ulama Keluhkan Liberalisme di Kalangan Anak Muda NU
MUNAS DAN KONBES NU
Para Ulama Keluhkan Liberalisme di Kalangan Anak Muda NU
Kamis, 27 Juli 2006 23:40
Surabaya, NU Online
Faham liberalisme yang belakangan ini menghinggapi fikiran anak muda NU dikeluhkan oleh para ulama dalam silaturrahmi di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Ajaran baru tersebut dinilai sudah melenceng dari ajaran ahlusunnah wal jamaah yang menjadi dasar dari ajaran NU.
Masalah kaderisasi yang buruk diduga sebagai salah satu penyebab para anak muda NU tersebut menyerap pemikiran-pemikiran luar tersebut. “Banyak anak muda NU yang sudah terlepas dari kebodohan tapi belum pinter beneran,” tandas KH Hasyim Muzadi.
Sebelumnya dalam rapat pleno PBNU Kamis Sore, Hasyim mengingatkan agar seluruh jajaran PBNU berhati-hati dalam menjalin kerjasama dengan funding dari luar negeri.Kalau dalam kaitan dengan penanggulangan bencana atau pengembangan pendidikan, bias diterima, tapi kalau pengembangan wacana tertentu, lebih baik ditolak saja,” tandasnya.
Banyaknya anak muda NU yang mengusung ide-ide liberalisme dengan icon Jaringan Islam Liberal (JIL) tersebut menyebabkan citra NU dimasyarakat menjadi kurang baik. NU dianggap tidak mampu melakukan upaya untuk membendung arus liberalisme tersebut.
Disisi lain, akibat dari pengaruh globalisasi, terdapat juga beberapa golongan dalam tubuh Nahdlatul Ulama yang cenderung menjadi konservatif. Beberapa lulusan pesantren banyak yang menjadi kader LDII atau Ahmadiyah.
Pulangkan Mahasiswa dari Iran
PBNU saat ini tengah berupaya memulangkan 4 orang mahasiswa pasca sarjana yang dikirimkan ke Iran tahun lalu untuk belajar di Qum University. Satu orang sebelumnya telah pulang karena tidak kerasan dengan situasi kehidupan keagamaan yang ada di negeri tersebut. Saat ini keempat mahasiswa yang tersebut sedang mengkonsentrasikan diri belajar bahasa Persia.
“Dengan belajar bahasa Persia, kan ada yang didapat dari sana. Selanjutnya mereka akan dikirimkan untuk belajar di negera lain,” tandas Hasyim. (mkf)
courtessy : www.nu.or.id
Para Ulama Keluhkan Liberalisme di Kalangan Anak Muda NU
Kamis, 27 Juli 2006 23:40
Surabaya, NU Online
Faham liberalisme yang belakangan ini menghinggapi fikiran anak muda NU dikeluhkan oleh para ulama dalam silaturrahmi di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Ajaran baru tersebut dinilai sudah melenceng dari ajaran ahlusunnah wal jamaah yang menjadi dasar dari ajaran NU.
Masalah kaderisasi yang buruk diduga sebagai salah satu penyebab para anak muda NU tersebut menyerap pemikiran-pemikiran luar tersebut. “Banyak anak muda NU yang sudah terlepas dari kebodohan tapi belum pinter beneran,” tandas KH Hasyim Muzadi.
Sebelumnya dalam rapat pleno PBNU Kamis Sore, Hasyim mengingatkan agar seluruh jajaran PBNU berhati-hati dalam menjalin kerjasama dengan funding dari luar negeri.Kalau dalam kaitan dengan penanggulangan bencana atau pengembangan pendidikan, bias diterima, tapi kalau pengembangan wacana tertentu, lebih baik ditolak saja,” tandasnya.
Banyaknya anak muda NU yang mengusung ide-ide liberalisme dengan icon Jaringan Islam Liberal (JIL) tersebut menyebabkan citra NU dimasyarakat menjadi kurang baik. NU dianggap tidak mampu melakukan upaya untuk membendung arus liberalisme tersebut.
Disisi lain, akibat dari pengaruh globalisasi, terdapat juga beberapa golongan dalam tubuh Nahdlatul Ulama yang cenderung menjadi konservatif. Beberapa lulusan pesantren banyak yang menjadi kader LDII atau Ahmadiyah.
Pulangkan Mahasiswa dari Iran
PBNU saat ini tengah berupaya memulangkan 4 orang mahasiswa pasca sarjana yang dikirimkan ke Iran tahun lalu untuk belajar di Qum University. Satu orang sebelumnya telah pulang karena tidak kerasan dengan situasi kehidupan keagamaan yang ada di negeri tersebut. Saat ini keempat mahasiswa yang tersebut sedang mengkonsentrasikan diri belajar bahasa Persia.
“Dengan belajar bahasa Persia, kan ada yang didapat dari sana. Selanjutnya mereka akan dikirimkan untuk belajar di negera lain,” tandas Hasyim. (mkf)
courtessy : www.nu.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)
